Mengingat ketika saya masih tinggal di sebuah kampung di Jakarta, saat itu Ayah saya masih menjadi pegawai rendahan di sebuah departemen.
Saat itu banyak sekali teman sebaya saya, yang mengatakan bahwa sahabat saya, katakan namanya Tejo - bukan nama sebenarnya, adalah seorang Kejawen yang syirik. Saya sendiri bertanya-tanya mengapa syirik, karena mereka juga suka mengatakan hal itu kepada saya, karena keluarga saya dan saya penganut agama yang beritual setiap hari minggu dan bukan hari Jumat.
Saat itu banyak sekali teman sebaya saya, yang mengatakan bahwa sahabat saya, katakan namanya Tejo - bukan nama sebenarnya, adalah seorang Kejawen yang syirik. Saya sendiri bertanya-tanya mengapa syirik, karena mereka juga suka mengatakan hal itu kepada saya, karena keluarga saya dan saya penganut agama yang beritual setiap hari minggu dan bukan hari Jumat.