Agama Tidak Membuat Orang Jadi Baik

Tidak ada satu Agama pun di dunia, yang bisa membuat orang jadi baik. Yang ada; Orang baik dan mempunyai niat yang baik, menggunakan Agama apa pun, untuk tujuan kebaikan. Pasti dia akan jadi baik.
Jadi pilihlah Agama yang sesuai dengan Hati Nurani.

Minggu, 27 November 2011

Kejawen Aliran Sirik

Mengingat ketika saya masih tinggal di sebuah kampung di Jakarta, saat itu Ayah saya masih menjadi pegawai rendahan di sebuah departemen.

Saat itu banyak sekali teman sebaya saya, yang mengatakan bahwa sahabat saya, katakan namanya Tejo - bukan nama sebenarnya, adalah seorang Kejawen yang syirik. Saya sendiri bertanya-tanya mengapa syirik, karena mereka juga suka mengatakan hal itu kepada saya, karena keluarga saya dan saya penganut agama yang beritual setiap hari minggu dan bukan hari Jumat.



Sepuluh tahun berlalu, dan saya kini tinggal di sebuah negara di Eropa, ikut ayah saya yang kebetulan ditempatkan oleh Pemerintah RI sebagai salah satu Atase di sebuah KBRI.

Kesempatan saya mengambil fakultas filsafat, membuat saya teringat kata-kata teman-teman saya, ketika saya kecil, mengenai sirik.

Hal itu seharusnya tidak terjadi, jika orang tua mereka cukup berpendidikan. Mengapa?
Karena menurut saya, teman-teman saya waktu kecil dahulu, mendapat pelajaran dari orang tua mereka yang melihat dari kacamatanya sendiri.

Seminggu yang lalu saya berkirim email dengan Tejo, untuk menanyakan mengapa dia sering melakukan Sesajen. Ternyata Tejo menerangkan dengan gamblang apa itu arti sesajen bagi seorang Kejawen. Yakni, seperti menyajikan tamu yang datang ke rumah kita. Ia pun mengatakan, bahwa dirinya dan keluarganya tidak pernah menyembah semua Pusaka yang ada di rumahnya. Melainkan, mereka menghormati penunggunya, yang mereka anggap usianya sudah jauh lebih tua dari Tejo bahkan Buyutnya sendiri.

Akhirnya saya mengerti, mengapa ritualnya begitu hening, dan menghanyutkan.

Jadi intinya, Kejawen tidak menyembah benda-benda Pusaka, seperti yang dituduhkan oleh teman-teman kecil saya.

Dan saya pun tidak lupa ber-email ria dengan teman-teman kecil saya yang lain. Dimana mereka masih saja melecehkan Tejo.

Beruntung saya belajar Filsafat walau masih semester 3, dimana kebanyakan orang bodoh selalu melihat dari kacamatanya sendiri.

Akhirnya, saya yang walau bukan penganut Kejawen, mencoba menerangkan kepada teman saya tadi, sebut saja namanya Rahmat - bukan nama aslinya pula.
Bahwa kesalah pahama itu terjadi karena ketidak tahuan kita mengenai makna aliran lain, diluar agama yang kita anut.

Saya bilang sama Rahmat, bahwa Tejo itu  hanya korban dari salah satu orang buta yang ramai-ramai memegang Gajah.
Saya beri contoh kepada Rahmat, kalau saja saya dulu ketika kecil melihat orang-orang mencium Hajar Aswad, dan orang tua saya yang nobene bukan beragama tersebut, tidak menerangkan yang benar, maka menganggap bahwa kamu juga sirik. hehehe

Keesorkan harinya Rahmat mengirim email kepada saya, dan dia minta email-nya Tejo, karena dia ingin meminta maaf atas kesewenang-wenangan menghakimi Tejo.

Syukurlah, ternyata masih ada orang yang sportif.